SOSIAL KEMASYARAKATAN
AGAMA sedang MATI! (sebuah refleksi mangasah mata hati)
Tata hidup bermasyarakat modern mengalami pergeseran dari nilai-nilai hidup tradisional (pengajaran akidah yg diwariskan secara turun-temurun)
menjadi nilai-nilai hidup modern (saya sendiri bingung apa sejatinya yg dimaksudkan modern itu sendiri). Bagi sebagian kita barangkali setuju bahwa yg dimaksudkan dengan nilai-nilai adalah ajaran,petuah atau mungkin bisa disebut juga dengan nasehat.
Tanah jawa jauh sebelum masuk pengaruh luar sudah memiliki nilai-nilai yg dianut oleh masyarakat, dengan masuknya ajaran-ajaran seperti hindu,buddha,kristen dan islam berangsur-angsur nilai-nilai taridional tersebut kian memudar. Sebab oleh sebagian penyebaran ajaran baru nilai-nilai tradisi dianggap kafir (animisme ditafsirkan tidak bertuhan!).
Jadilah tanah jawa (secara luas berarti indonesia) menjadi ajang perang menegakkan agama! tragis memang kalau pada perkembangannya sekarang ini masing-masing mengklaim bahwa diri merekalah yg paling benar sementara kondisi sebenarnya tidak ada satupun yg berkuasa menjadikan indonesia sehat jasmani dan rohani.
Mari kita simak penuturan ini lebih lanjut! perhatikanlah sejak mulai diperkenalnya indonesia modern pasca penjajahan negeri ini sudah dimulai dengan cara-cara yang benar yakni dimana landasan sebagai sebuah bangsa yg berdaulat sendi-sendi kemasyarakatannya didasari oleh ketuhanan yang maha esa (sila pertama dari panca sila) tidak disebutkan bahwa negeri ini berlandaskan agama melainkan ketuhanan, berbedakah pengertian agama dengan ketuhanan? sangat berbeda.
Agama berasal dari kata a dan gama dari bahasa latin yg memiliki arti a berarti tidak sedangkan gama berarti kacau, sedangkan ketuhanan berasal dari kata Tuhan (tidak perlu dijabarkan anda sudah pasti mengerti bukan?) dimana letak perbedaannya? coba perhatikan dengan seksama setiap agama memiliki penafsiran mengenai Tuhan yg tidaklah sama satu dengan yg lain sehingga diantara mereka tidak mungkin bisa didudukan dalam satu bangku lalu ditarik satu kesimpulan yg sama mengenai definisi Tuhan sedangkan Tuhan yg diperdebatkan oleh agama-agama itu sebenernya esensinya cuma satu (emang ada banyak Tuhan?).
Dari dulu hingga kini dunia ini selalu ribut dan penyebabnya adalah (agama) mereka yg berperang,membunuh atas nama Tuhan. Menyeberangi lautan menaklukan tingginya gunung menembus padang belantara demi menegakan syariat (baca: nama Tuhan) pertanyaan saya Tuhan yang mana, kalau kita setuju bahwa Tuhan itu Esa berarti tidak perlu sampai terjadi pertumpahan darah tatkala siar itu dijalankan bukan?.
Dewasa ini yg terjadi justru sebaliknya kecurigaan antar umat beragama yang adalah warisan jaman dulu kala kian berkembang subur coba baca kutipan ini hari gini masih ribut soal begituan….(coba membaca tulisan ini dengan hati bersih!) mana yg penting agama atau kemanusiaan anda bisa saja berkata salah satu atau keduaanya kalau setiap kita bisa bersikap lebih bijak saya yakin dan percaya mendirikan rumah ibadah bagi setiap pemeluk agama bukan lagi sesuatu yg amat sangat sensitif hingga perijinannya sampai-sampai diatur dalam surat keputusan bersama 2 (dua) menteri.
Barangkali memang jaman sudah semakin tua atau negara kita sedang sakit! agama yg seharusnya mengayomi umat telah berubah menjadi mesin pembunuh yg amat keji (setiap peristiwa berdarah nyaris selalu dikait-kaitan dengan agama konflik poso,ambon sampit dsb) sedangkan tragedi kemanusiaan yg paling tragis luput dari perhatian kaum agama (siapa yg paling bertanggung jawab akan hilangnya satu peradaban akibat lumpur lapindo disidoarjo?).
Jangan dianggap sepele kasus ini! ganti rugi habis perkara tidak semudah itu!! apa kalau sudah diganti rugi dengan uang semua selesai begitu saja? bayangkanlah kalau itu menimpa saudara tragedi itu sama artinya menghapus jati diri saudara sebagai umat manusia karena hilangnya akar budaya,silsilah/asal usul,tatanan hidup komunitas/masyarakat belum lagi luka-luka bathin anak-anak yg kehilangan keceriaan masa kanak-kanak karena harus hidup dipengungsian serta kerusakan ekosistem yg belum tentu akan bisa pulih dalam kurun waktu satu hingga dua dasawarsa, gila bukan?!
Kemana kaum beragama, pada pergi? atau tertidur? LAPINDO BRANTAS (atau siapapun mereka dimata saya tidak lebih dari orang yg beragama namun berhati iblis!) bisa saja berkelit dengan berbagai cara hingga bebas dari tanggung jawab, tidur nyenyak dan show must go on kalau benar mereka orang beragama kok masih bisa ya menelan nasi saat santap makan sambil menyaksikan tayangan berita tentang mereka yg desanya tergenang semburan lumpur panas yg diakibatkan ulah mereka. Agama dalam hal ini sedang menuju kematian.
Barangkali kalau kita kembali kepada nasehat para pendiri bangsa ini Tuhan lebih tepat dibandingkan agama. Bertuhan barang kali lebih baik daripada beragama, sebab beragama kita susah untuk menjadi satu dan untuk apa bila hakekatnya sudah tidak lagi kita pahami dengan baik.
Namun jika kita masih merasa penting untuk beragama, beragamalah sebagai mana layaknya orang yang bertuhan sebarluaskan nilai-nilai kemanusiaan sebagai roda penggerak sendi-sendi keberagaman sebab jika kita mengaku diri orang saleh tapi tidak berperi kemusiaan itu sama artinya garam yang telah kehilangan asinnya, tidak ada gunanya bukan!
——————————————————————————————
KESETIAKAWANAN SOSIAL
Indonesia dulu terkenal sebagai negara timur yg murah senyum,tak heran banyak orang luar (baca: barat) tidak sedikit yg rela berpindah warga negara karena terpikat dengan hal ini (meski alasan yg sesungguhnya mungkin juga tdk semata-mata karena hal tersebut). Sebut saja R.Bonnet, Antonio Blanco, le meyeure dsb!
Negara gemah ripah loh jinawi atau jika meminjam istilah yok koeswoyo tonggak dan kayu jadi tanaman (dalam lagu ‘kolam susu’). Namun yg terjadi akhir-akhir ini sungguh amat berbeda keberingasan,kekejaman terjadi didepan mata,perusakakan alam nyaris tanpa henti ada apa dengan Indonesia kini?
Sulit di lukiskan jika anda pernah hidup dijaman kolonial (kata orang tua dulu) jauh lebih baik dibanding sekarang, kenapa? barang kali jawabannya sederhana hukum dijalankan dengan benar. Walaupun sebagai penjajah Belanda memberi bukti bahwa siapa saja jika melanggar hukum akan diberi sangsi oleh hukum itu sendiri jangan kaget jika sekelas gubernur jendral sekalipun bisa diadili dan dijatuhi hukuman kalau memang terbukti bersalah.
Berbeda dengan jaman merdeka sekarang sudah jelas-jelas salah kalau dia adalah orang kuat maka dia bisa tak tersentuh oleh hukum yg notabene dibuat untuk menghukum siapa saja takperduli setan jendral, hebat bukan! Maka jangan terheran-heran kalau sekarang setiap orang sudah lebih mementingkan diri sendiri ketimbang memikirkan kepentingan orang lain.
Apa sebenarnya kesetiakawanan itu? waktu masih ABG kita sering mengatakan setiakawan waktu membela kawan yg terlibat tawuran dengan anak sltp sebelah walau kawan kita salah, atas nama setiakawan juga kita rela bolos sekolah rasa-rasanya masa itu jauh lebih hebat rasa setia kawannya jika dibanding sekarang ini ketika nalar kita sudah kian dewasa kenapa bisa begitu?
Pusing! ada ketimpangan terjadi disekitar kita barang kali ini juga akibat kian melunturnya kesetiakawanan dikalangan orang dewasa, suatu saat penulis mengalami suatu kondisi yg cukup sulit (nggak punya pekerjaan tetap, sementara usaha/wiraswasta belum menampakkan hasil, kebutuhan hidup kian meningkat) pergi kesana pergi kesini tak ada satu orang pun yang peduli (padahal perginya ke orang-orang yg ngakunya teman).
Hingga terlintas didalam benak waktu itu bahwa percuma punya banyak kenalan kalau tak ada yg peduli! sebab bagi penulis teman memiliki pengertian adalah orang yg siap membantu ketika dibutuhkan, emang ada banyak alasan yg menurut banyak orang adalah masuk akal. Padahal hanyalah alasan yg dibuat-buat untuk mendukung sikap mereka yg tidak mau tau akan kesulitan orang lain.
Sidang pembaca yg budiman lalu apa pengertian kawan menurut anda? apakah orang yg baru kita kenal tatkala sedang duduk di angkot, atau teman sebangku saat kita nonton spiderman 3? atau mereka yg kita jumpai di stadion benteng waktu PERSITA VS PERSIKOTA? semua mungkin setuju dengan definisi ini: “teman adalah orang yg kita kenal dengan baik luar maupun dalam”. Jadi alangkah tragisnya nasib saya jika pada saat saya butuh pertolongan dan tak seorangpun memperdulikan saya walaupun saya sudah pergi ke teman-teman saya.
Karena mereka bukanlah orang-orang yg mengganggap saya sebagai kenalan yg dikenal dengan baik luar/dalam. Ada dua hal penting yg saya perloleh lewat peristiwa ini:
Pertama, saya kecewa berat saking kecewanya Tuhan juga saya salahkan! kenapa? sebab menurut hemat saya Dia tidak adil terhadap orang-orang tak berkesetiakawanan seperti mereka kok justru diberi kekayaan, padahal jelas-jelas memiliki mata tapi tidak bisa melihat memiliki telinga tapi tidak bisa mendengar.
Kedua, saya berkesempatan untuk intropeksi diri yakni selama ini saya kurang membuka diri sehingga mereka bisa mengenal saya dengan baik luar/dalam. Jadi dimasa mendatang saya meski lebih intens mendekatkan diri ke mereka agar saya bisa dikenal dengan lebih baik.
Benarkah pola pikir saya? apapun yg saya putuskan tetaplah tidak menjawab persoalan saya sehingga langkah yg paling baik adalah saya belajar menyelesaikan maslah saya tanpa mengandalkan siapa-siapa tidak teman tidak juga saudara, mutlak diri saya sendiri! taukah akibatnya sekarang?! pola pikir saya skeptis bersosialisasi tapi skeptis (bahkan sedang belajar untuk opurtunitis).
Gawat bukan? nah padahal dewasa ini orang seperti saya jumlahnya banyak sekali berkeliaran disekitar kita teman di majelis taklim,teman dipengajian,teman di gereja, teman yang sepertinya kita kenal baik suatu saat bisa menikam kita dari belakang awas tunggu saatnya anda akan mengalami seperti apa yng saya alami cepat ataupun lambat!
Mungkin ini yang dimaksudkan oleh ki ronggowarsito sebagai jaman edan! kesengsaraan didepan mata namun bisa pura-pura tidak melihat! sedemikian parahkah atau masih ada mereka-mereka yg memiliki hati buat orang lain? kita meski berkaca pada kasus doris calabot Ternyata masih ada orang budiman ditengah masyarakat bajingan! masih ada orang baik ditengah orang-orang tengik! apapun agama yg dianut, wahyu telah memberikan pembelajaran kepada kita semua bahwa untuk memiliki kestiakawanan sosial itu bisa jadi harus berkorban bila perlu dengan nyawa (mungkin ini yg membuat orang enggan bersikap demikian), nah pertanyaan saya kemana perginya kalimat Allah yg dikumandangkan tiap saat, khotbah dimimbar tiap minggu?
Untuk jadi kawan harus berani berkorban saat kapan? saat siapa saja memerlukan takperduli kita kenal ataupun tidak, sealiran atau tidak, seagama atau tidak. Menurut saya orang yang demikian apapun agamanya pasti masuk sorga! Dari pada kaum agamais yg cuma bisa berkoar-koar dimimbar mencatut nama Tuhan (bertobat!) Islammu tak akan menyelamatkanmu! Kristenmu Isapan jempol! atau apa pun agamamu…kalao tidak berani bertindak nyata tanpa pamprih,tulus,peka niscaya bagi kita hanya akan dapat neraka jahanam….
